|
Anak Kutu
Offline
Posts: 49
Join Date: Aug 2007
Location: err...earth...
|
Treasure Your Chances.... -
31-07-2008, 11:08 PM
Ibu saya yang telah menjanda selama 9 tahun. Belakangan ini
>> saya
>> jarang menemuinya karena kesibukan kerja dan bantu istri
>> saya mengurus
>> tiga anak kami.
>>
>> Suatu malam, tiba-tiba saya pingin pergi berdua saja dengan
>> Ibu dan
>> ketika pikiran itu saya kemukakan ke istri saya, spontan
>> dijawab..
>> "Kenapa tidak kamu lakukan hal itu sekarang, selagi
>> Ibu masih sehat ?"
>> Saya segera melompat dari tempat duduk saya dan langsung
>> telepon ibu,
>> mengajaknya makan malam dan nonton film. Berdua saja.
>>
>> "Ada apa dengan istrimu?" kata ibu dari ujung
>> telepon.
>> Ibu saya adalah tipe yang selalu curiga kalau menerima
>> undangan yang
>> datangnya tiba-tiba. Bagi dia, itu pasti akan membawa
>> berita buruk.
>> "Saya pikir, pasti akan menyenangkan kalau kita
>> sekali-sekali ke luar
>> berdua saja," jawab saya. "Istri saya baik-2 aja
>> kok, tapi kali ini saya
>> memang hanya pingin pergi berdua dengan Ibu, itupun kalau
>> Ibu mau.."
>> "Ibu mau sekali," jawabnya setelah terdiam
>> beberapa lama. Aha, dia
>> masih curiga.
>>
>> Besok malamnya, sepulang kantor saya ke rumah ibu. Dari
>> halaman
>> sudah terlihat oleh saya dia agak gelisah, mungkin karena
>> sudah tidak
>> sabar menunggu, dan berdandan resmi sekali.
>> Ibu jelas telah menata rambutnya di salon, dan dia memakai
>> gaunnya
>> yang terbaik. Gaun yang dipakai pada pesta ulangtahun
>> perkawinan
>> yang terakhir ketika ayah masih hidup.
>>
>> Ibu menyambut saya dengan senyum lebar, dengan sorot mata
>> seolah
>> tidak percaya akan diajak 'kencan' oleh
>> satu-satunya anak laki-lakinya.
>> "Ibu cerita ke teman-teman tetangga tentang rencana
>> kita ini. Mereka
>> semua kaget dan merasa ikut senang seperti ibu
>> sekarang," kata ibu
>> seraya masuk mobil. "Mereka bilang besok pagi ingin
>> tahu ceritanya."
>>
>> Kami pergi ke restoran yang agak mahal. Suasana ruangan
>> didalamnya
>> terasa elegan & menyenangkan, dan sayup-sayup terdengar
>> suara musik
>> yang lembut. Ibu menggandeng lengan saya ketika memasuki
>> ruangan,
>> jalannya anggun persis seperti First Lady.
>> Ketika itu saya sempat menyesali diri, kenapa tidak dari
>> dulu sejak Ayah
>> meninggal, saya hibur Ibu dengan cara seperti ini ..???
>> Giliran mau pesan makanan, saya harus membacakan daftar
>> menu karena
>> ibu tak bisa lagi membacanya walaupun sudah menggunakan
>> kacamata.
>> Ketika sedang membaca daftar itu, saya berhenti sejenak
>> menengok ke
>> ibu. Dia sedang memandangi saya dengan senyum yang penuh
>> kasih...
>> "Dulu, ibu yang membacakan kamu daftar menu ketika
>> kamu masih kecil,"
>> katanya, dengan nada bangga...
>>
>> "Sekarang ibu santai saja. Giliran saya yang melayani
>> ibu," jawab saya.
>> Sambil makan, kami membincangkan banyak hal sehari-hari.
>> Tidak ada
>> topik yang istimewa tapi obrolan mengalir saja
>> sampai-sampai akhirnya
>> kami terlambat untuk menonton film.
>>
>> Ketika saya mengantarnya pulang, di muka pintu ibu berkata,
>> "Ibu mau
>> pergi lagi dengan kamu, tapi lain kali ibu yang bayar, ok
>> ?!"
>> Saya setuju.
>>
>> "Bagaimana 'kencan'mu dengan Ibu?" tanya
>> istri saya sesampai di rumah.
>> "Sangat menyenangkan. Lebih dari yang saya duga.
>> Tadinya tidak tahu
>> mau ngomong apa. Tapi malah ceritanya kelewat asyik sampai
>> nggak
>> jadi nonton film.."
>> Istri saya ikut senang mendengar cerita tentang pengalaman
>> saya dan
>> Ibu di restoran itu.
>>
>> Lalu .................................
>>
>> Beberapa hari kemudian, ketika sedang di kantor saya
>> dikagetkan oleh
>> berita melalui telpon dari istri saya yang mengabarkan
>> bahwa ibu telah
>> meninggal karena serangan jantung.
>> Begitu tiba-tiba kejadiannya.., saya merasa belum berbuat
>> banyak untuk
>> Ibu, masih terbayang dimata saya 'senyum & sorot
>> mata' kebahagiaan
>> yang terpancar diwajah Ibu ketika makan sambil ngobrol
>> berdua dengan
>> saya di restoran beberapa hari sebelumnya.
>> Selama seminggu kami tidur di rumah Ibu, disamping untuk
>> menerima
>> teman-teman Ibu yang ingin bertamu untuk menyampaikan
>> belasungkawa
>> juga untuk benahin barang-barang Ibu yang perlu diberesin.
>> Sekembaliya kami di rumah, ada sepucuk surat undangan yang
>> dikirim
>> oleh restoran tempat saya dan ibu makan malam. Surat itu
>> dilampiri
>> kopi 'tanda lunas' (tertanggal 2 hari setelah kami
>> berdua makan malam
>> bersama), dan ada selembar kertas dengan tulisan tangan
>> yang diselipkan
>> disitu, bertuliskan :
>>
>> "Ibu sudah bayar makan malam kita (sesuai janji Ibu)
>> walaupun rasanya tak
>> mungkin kita bisa makan bersama lagi. Namun begitu, ibu
>> sudah bayarkan
>> untuk dua orang, Ibu pingin bisa kamu gunakan untuk makan
>> berdua
>> istrimu...
>> Terimakasih anakku, besar sekali arti undanganmu malam itu,
>> bagi Ibu."
>>
>> ........................................
>> Pada detik itulah saya baru memahami betapa pentingnya arti
>> "kesempatan"
>> yang bisa kita gunakan untuk mengatakan kepada orang-orang
>> yang kita
>> sayangi, mengenai perasaan kita terhadap mereka....!
>>
>> Tidak ada hal yang lebih penting dalam hidup ini daripada
>> "Keluarga atau
>> orang-2 yang kita cintai".
>> Berikan waktu Anda secara khusus untuk mereka, jangan
>> sampai Anda
>> terlambat untuk mengatakan/menunjukkan bahwa Anda amat
>> sangat menyintainya...!!!.
>>
>> Noted:
>> I miss U more than I ever missed..
>> I love U Mom...
***P.S. taken from a forwarded email...
|