MusicSentinel Forum  

Go Back   MusicSentinel Forum > Da Cafe > All About Us


To keep this site alive please take a look at our sponsors:



 
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
Prev Previous Post   Next Post Next
Kasih Tak Terucap - A Story
Old
  (#1 (permalink))
Na'
Mrs Felton
 
Na''s Avatar
 
Offline
Posts: 815
Join Date: Oct 2006
Location: galaksi bimasakti
Post Kasih Tak Terucap - A Story - 23-03-2007, 04:27 PM

Kasih Tak Terucap


12 tahun

Aku bertemu dengannya sebulan yang lalu, di cafe tempat aku sering menghabiskan waktuku untuk merenung. Sinar matanya begitu menenangkan, membuyarkan lamunanku. Tanpa terasa dia mendekati meja tempatku duduk. Bertanya padaku apakah aku keberatan jika dia duduk di situ, karena meja lain sudah penuh. Dengan senang hati kupersilahkan dia untuk duduk. Mulai saat itu, aku dan dia mulai berteman. Dia anak yang baik hati, menyenangkan dan mudah bergaul. Seiring waktu berjalan, hubungan kami berkembang dari teman biasa menjadi sahabat. Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu aku menyukainya. Ah, apa yang kupikirkan? Kami sama-sama masih sangat muda. Belum waktunya bagi kami untuk membicarakan hal-hal yang berbau cinta.

Dia pasti hanya menanggap aku sebagai sahabatnya. Tidak lebih dari itu. Aku tahu itu. Aku menyukainya. Dia hanya menganggapku sebabgai sahabatnya yang terbaik. Aku juga tahu itu. Ah... Dia bagai bintang di langit, yang takkan bisa kucapai...


13 tahun

Kini umur kami sudah bertambah satu. Waktu berlalu dengan begitu cepatnya. Sekarang kami sudah menduduki kelas satu SLTP. Dia masih seperti dulu.Aku sangat bersyukur melihat namaku tertulis di daftar kelas yang sama dengannya. Hatiku menjadi berbunga-bunga. Dalam hitungan hari dia sudah mendapat banyak teman baru. Yah, tentu saja. Dengan kecantikan dan kebaikan hatinya, dia bisa mendapat teman dengan mudah. Aku tahu, pasti tidak ada yang bisa menolak senyumannya.

Tapi, aku juga merasakan sedikit ketakutan dalam diriku. Takut dia akan direbut orang lain. Takut jika dia lebih memilih teman-teman barunya daripada aku. Takut karena dalam hitungan hari juga, dia sudah menjadi idola semua anak laki-laki di kelas, bahkan seluruh sekolah.

Aku tahu aku menyukainya. Dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya yang terbaik, yang bisa mendengarkan keluh kesahnya. Aku juga tahu itu. Ah... Dia bagaikan sang surya yang menyinari stiap insan di dunia, yang takkan pernah bisa kucapai...


15 tahun

Roda kehidupan terus berputar tanpa mempedulikan perasaanku. Umur kami sudah bertambah dua tahun. Sekarang kami sudah menduduki kelas terakhir SLTP. HAri ini, aku sedang menikmati caffe o' latte kegemaranku di cafe tempat kami bertemu tiga tahun yang lalu. Merenungkan sekolah lanjutan yang akan kupilih. Beberapa hari yang lalu, kami sempat terlibat pembicaraan seru tentang hal ini. Dia menyuruhku untuk masuk ke sekolah lanjutan yang sama. Dalam hati aku sangat senang. Tapi aku punya cita-cita yang ingin kucapai, setidaknya...

Aku tahu aku menyukainya. Tapi aku juga tahu bahwa dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya yang terbaik. Ah... Dia bagaikan mutiara di dasar laut yang takkan pernah bisa kucapai...


22 tahun

Sekarang kami telah bekerja di perusahaan yang sama. Dia masih seperti dulu, begitu supel dan cantik. Juga sama seperti masa sekolah, dia menjadi idola bagi para karyawan dan teman bagi karyawati yang bekerja di perusahaan kami. Dia begitu bersinar, menebarkan kebahagiaan bagi semua orang yang mengenalnya. Aku sangat bangga bisa menjadi sahabatnya sampai sekarang.

Aku menyukainya. Aku tahu itu. Dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Aku juga tahu itu. Ah... Dia bagaikan angin yang berdesir, mengalunkan nyanyian lembutnya, yang takkan bisa kucapai...


25 tahun

Hari ini, aku berjalan gontai pulang ke rumah. Aku baru saja melakukan hal yang sangat menakjubkan. Aku menghadiri upacara pernikahannya dengan laki-laki lain, dan memberinya ucapan selamat dengan wajah penuh senyum bahagia. Padahal dalam hati, aku ingin berteriak bahwa aku menyukainya dan berharap dia tidak menikahi laki-laki itu.

Aku menyukainya. Aku tahu itu. Dia hanya menganggapku sahabatnya yang datnag memberinya selamat. aku juga tahu itu. Ah... Dia bagaikan rembulan yang menyinari bumi di malam hari dengan cahaya lembutnya, yang takkan bisa kucapai...


52 tahun

27 tahun berlalu. Langit mendung. Seakan turut merasa beduka cita atas kepergiannya dari dunia ini. Aku bersama teman-teman dan keluarganya mengantarnya kembali ke sisi Bapa. Air mata tergenang di sudut mataku. Tak kuasa menahan kesedihan. Kulemparkan rangkaian bunga forget-me-not kesukaannya, sebagai tanda penghormatan terakhir.

Aku menyukainya. Aku tahu itu. Dia haya menganggapku sebagai sahabat sampai saat-saat terakhirnya. Aku juga tahu itu.

Salah seorang kerabat dekatnya naik ke atas podium. Ia membacakan salah satu halaman buku harian yang ditulisnya sewaktu kami masih bekerja di perusahaan yang sama. Pada alinea terakhir tertulis, "Aku begitu menyukainya. Aku tahu itu. Dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya yang terbaik. Aku juga tahu itu. Ah... Dia bagaikan awan dia atas langit biru, yang takkan bisa kucapai..."

Air mataku berjatuhan, tak terbendung lagi. Ah... Aku juga menyukaimu...Selalu...Selalu...





by: Na'
   
Reply With Quote Go to Top
 

Bookmarks

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On

Forum Jump



Powered by vBulletin - MusicSentinel Group
Copyright © 2006 - 2008